February 2, 2019

2 Tokoh Ini Adalah Simbol Kebenaran Umat Islam


Simbol Islam (kebenaran).


2 Tokoh Ini Adalah Simbol Kebenaran Umat Islam - Sayyid Hasan dan Sayyid Husein adalah cucu Rasulullah dari pernikahan Sayyidina Ali Bin Abi Thalib dengan Sayyidah Fatimah Binti Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam.

Pada zaman kehidupan Rasulullah, sebagai tokoh mukmin (Ciri utama tokoh mukmin adalah iman dengan keputusan Tuhan), Nabi sebagai mukmin sejati tidak mengeluh ketika mendapatkan kabar dari Allah bahwa sayyid Husein kelak akan mati atau dibunuh, karena bagi Rasulullah terbunuhnya sayyid husein akan menjadi tonggak kebenaran sejati. Wafatnya sayyid Husein jadi simbol, bahwa siapa saja boleh berani mati demi kebenaran.

Tapi Nabi juga sering memuji sayyid Hasan, yang lebih melihat atau memilih kompromi lebih baik daripada prahara atau tragedi, dimana sayyid Hasan memutuskan menyerahkan pemerintahan pada Mu'awiyah dengan tujuan umat islam aman, serta tidak terjadi konflik yang menyebabkan banyaknya umat islam jadi korban dengan harapan tercipta stabilitas.

Sayyid Husein tidak sependapat dengan kebijakan kakaknya yang lebih kompromi dengan tujuan kebaikan, Sayyid Husein lebih mempertahankan pendapatnya bahwa yang Haq (benar) harus dikatakan haq, meskipun harus mati menjadi taruhannya. Yaitu dengan tidak terima dengan kepemimpinan Yazid.

Disini terlihat bahwa 2 cucu Rasulullah menjadi simbol kebenaran, yang satu kompromi demi Kebenaran atau kebaikan umat dan yang satu berani mati demi Kebenaran. Jadi Sayyid Hasan memilih Damai itu demi Allah Subhanahu Wa Ta'ala, Sayyid Husein memilih mati juga demi Allah Subhanahu Wa Ta'ala, dipastikan keduanya melakukannya bukan demi kekuasaan.

Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihis Salam pernah mengajarkan berdoa seperti ini :

"Ya Allah Hidupkan saya, jika hidup lebih baik bagi saya, Dan matikan saya ketika mati lebih baik bagi saya."

Kenapa Rasullullah mengajari Do'a seperti itu, karena memang dalam banyak hal ditakdir tetap hidup itu lebih baik, begitu juga dalam banyak hal ditakdir mati itu juga lebih baik.

Makanya sebagian doa lebih diplomatis atau lebih bisa diterima secara optimistik tapi tidak mengurangi ketawakkalan sebagaimana doa Nabi sebagai berikut :

"Ya Allah jadikan hidup saya ini sebagai bekal menambah kebaikan, dan jadikanlah matiku sebagai akhir dari semua keburukan saya."

Doa seperti diatas akan membuat kita husnudzon pada Allah, bahwa ketika masih hidup kita berpotensi menjadi baik, dan ketika mati, "karena manusia pasti pernah berdosa" akhirnya mewujudkan husnudzon pada Allah bahwa mati kita jadi akhir dari maksiat kita.

Hal diatas bisa menjadi pelajaran bagi kita dalam mengambil keputusan dalam suatu kejadian. Memilih jalan seperti sayyid Hasan itu baik yaitu dengan memikirkan akibat buruk yang akan terjadi jika kita tidak kompromi dan bijaksana.

Atau memilih jalan sayyid Husein juga baik, yaitu dengan terus menyuarakan kebenaran hukum-hukum Islam (yang haram dikatakan haram yang halal juga harus dikatakan halal), tidak harus dengan kekerasan dalam negara yang toleran dan kondusif. Tujuannya adalah hukum-hukum islam tidak dibelokkan oleh masa, keadaan dan juga daya pikir yang lebih memilih logika seperti yang berkembang saat ini, pada akhirnya kebenaran tetap bisa sampai pada anak cucu kita.

Tapi setiap perbuatan pasti ada niatnya dalam hati yang hanya diketahui oleh diri kita dan Allah Subhanahu Wa Ta'ala, yang tidak akan pernah tertutup dengan niat lisan kita. Ketika niat kita baik dan benar, pastilah akan tercipta Kebaikan meskipun dalam bentuk kematian, Tapi ingat ketika niat kita tidak baik dan tidak benar (Modus) pasti akan menimbulkan keburukan dan kemadharatan. Allah maha mengetahui apa yang ada dalam hati kita.

Terakhir, semua keputusan dan niat kita tidak akan terlepas dari "Pandangan Allah" tentunya hal itu akan kita pertanggung jawabkan secara pribadi di hadapan Allah kelak, tidak akan bisa kita menyalahkan orang yang mengajari kita, karena bisa jadi mereka mengajarkan cara yang benar, tapi pemahaman dan "hayalan kebenaran" kita yang berbeda.

Jangan berebut menjadi benar, menghargai pendapat orang lain akan lebih baik. Mudahan-mudahan Kebijaksanaan dan ketawadhuan kita ditingkatkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala, semoga tulisan ini bermanfaat.

0 komentar

Post a Comment