January 13, 2019

Pengaruh Bencana Dan Tragedi Pada Pola Pikir Korban Selamat

Pasca jatuh, sebagian badan pesawat masih utuh

Pengaruh Bencana Dan Tragedi Pada Pola Pikir Korban Selamat - Banyaknya musibah dan tragedi yang terjadi di dunia, khususnya Indonesia akhir-akhir ini, seperti gempa di Lombok,  gempa dan "likuifaksi" tanah di Palu, Tsunami di Selat Sunda dan Lampung Selatan, tanah longsor di Sukabumi Jawa barat, pesawat jatuh di laut, dan masih banyak lagi musibah, bencana dan tragedi  yang lain. membuat sebagian besar orang berpikir dunia ini mulai tidak aman.

Lebih memilih Kapal Titanic yang kokoh dan megah daripada kapal biasa, karena Titanic dirasa lebih aman dari kapal lainnya, lebih memilih naik kereta daripada naik pesawat, karena kereta dirasa lebih aman daripada menggunakan jasa pesawat yang rawan jatuh. Contoh pemikiran seperti itu yang saat ini melekat pada sebagian orang, mungkin manusiawi. bahkan saya masih sering berpikir seperti itu.

Merasa tempat ini lebih aman dibanding tempat lainnya, merasa menggunakan ini lebih aman dibanding menggunakan lainnya, merasa toko besar dengan gembok besar lebih aman daripada toko kecil dengan gembok kecil, Tidak meyakini sesuatu yang terlihat kokoh dan kuat bisa menjadikan lebih aman, akan lebih baik.

Seharusnya berpikir seperti itu hanya sebatas usaha melakukan atau memilih yang menurut kita terbaik, bukan menggantungkan "keamanan" kita pada hal, benda, atau tempat tersebut, dan  mengingat kembali bahwa Tuhan lah satu-satunya pemberi aman. Sebagai contoh antara naik Kereta Api dan naik Pesawat, memilih diantara keduanya hanya karena kenyamanannya, kecepatannya, fasilitasnya, harga tiketnya, bukan pada AMANnya, berpikir seperti itu akan lebih benar.

Memang kita adalah manusia yang memiliki sifat Zalim dan Bodoh, seolah apa yang kita katakan saat ini sudah benar, kenyataannya di lain waktu, fakta atau kejadian "mematahkan" argumen kita. Seperti mengatakan jangan berenang di laut nanti tenggelam, di lain waktu kejadian membuktikan berada di daratan juga bisa tenggelam oleh Tsunami.

Seyogyanya kata "lebih aman" sedikit demi sedikit kita kikis dari pikiran dan pembicaraan kita, selain hal itu mengurangi ruang gerak kita, juga karena secara tidak langsung kita telah menggantungkan keamanan kita pada hal yang tidak seharusnya, padahal kita tahu dimana seharusnya menggantungkan keamanan dan keselamatan kita, sehingga meskipun kita memiliki sifat zalim dan bodoh, setidaknya tidak berlebihan dalam memilikinya.

"Semua hal yang dirasa manusia paling aman, menjadi tidak aman ketika dikehendaki oleh Allah SWT. dan begitu juga sebaliknya."

Itulah sedikit pengetahuan saya tentang bagaimana cara berpikir yang lebih sehat, saling mengingatkan dan menasehati adalah sebuah kebaikan, nasehat yang ditulis di kolom komentar dari pembaca akan sangat berharga bagi saya. semoga kezaliman dan kebodohan kita disedikitkan, serta semoga tulisan ini bermanfaat.

0 komentar

Post a Comment