January 29, 2019

Elegi Hujan Dalam Syukur Senja

Elegi Hujan dalam Syukur Senja

Elegi Hujan Dalam Syukur Senja - Waktu hujan adalah favoritku, memandang butiran air hujan yang jatuh mengenai jendela kamarku saat senja adalah kemewahan tersendiri, syahdu ... Indah ... menghanyutkan, membawa imajiku pada hal-hal yang manis, berbau romantis.

Tentang hujan yang selalu membawa rahmat bagi semesta alam, jutaan jarum air menghunjam bumi, membawa kehidupan untuk makhluk yang terlupakan. Ketika sebutir biji tak berarti yang jatuh begitu saja tertiupangin lalu tersesat diantara daun-daun kering yang akhirnya tertimbun debu demi debu, yang kemudian membentuk lapisan tanah.

Pada saat air hujan menyapa dengan segera pula kehidupan menjadi nyata adanya, berawal dari akar kecil yang mencoba berpegangan pada tanah, memeluk lalu mencengkeram kuat, barulah kemudian tunas kecil muncul dari permukaan tanah, malu-malu menampakkan diri, diikuti daun yang makin memperindah tunas.

Kehidupanpun dimulai, tumbuh tinggi, terus tinggi, melewati musim menembus waktu, menuju bunga yang segera menjadi buah. Buah yang bisa dipetik atau buah yang terlanjur busuk sebelum waktunya.

Begitupun kita, lahir, tumbuh lalu berguna bagi masyarakat atau membusuk jadi sampah masyarakat.

Tapi hujan sebagai manifestasi rahmat Allah Subhanahu Wa Ta'ala tetaplah sama, adil merata untuk setiap makhluknya di seluruh dunia. Begitu juga kasih sayang Allah Subhanahu Wa Ta'ala untuk manusia sebagai makhluk-Nya yang istimewa, semua disayangNya semua mendapat rahmat-Nya.

Hanya saja ada yang beruntung menyadarinya lalu bersyukur, bertasbih memuji yang maha kuasa, ada juga yang alpha, lupa dari mengingat segala nikmat-Nya dan mengingkarinya bahkan menyembah selain-Nya, Naudzubillah.

Bersyukurlah selagi bisa, untuk nikmat dan kasih sayang-Nya, teristimewa nikmat dalam menyadari rahmat-Nya yang semakin mempertebal kecintaan kepada-Nya.

Oleh : Laila

0 komentar

Post a Comment