January 11, 2019

Inilah Alasan Orang Jawa Tidak Berani Mantu Di Bulan Suro (Asyuro)

Padang Karbala tempat sayyidina Husein terbunuh oleh pasukan Yazid

Inilah Alasan Orang Jawa Tidak Berani Mantu Di Bulan Suro (Asyuro) - Bagi kaum milenial larangan menikah di bulan Suro ( Asyuro ) mungkin masih menjadi misteri, atau bahkan mungkin sudah ada yang tahu tapi berbeda dari cerita yang akan dikutip dari pengajian Gus Muwafiq berikut ini.

Bulan Asyuro atau Muharam merupakan salah satu nama bulan di tahun Hijriyah ( Tahun yang dihitung dari hijrahnya Nabi Muhammad SAW ke Madinah ). Lantas apa yang menjadikan bulan Suro (Asyuro) begitu keramat bagi sebagian besar orang. Kisah dari Gus Muwafiq insya Allah akan memberi pencerahan bagi kita semua tentang "keangkeran" dan simpang siurnya alasan banyak orang melakukan ritual khusus di bulan Suro (Asyuro).

Alasan Orang Jawa Tidak Berani "Mantu" (menikahkan anaknya) Di Bulan Asyuro

Orang jawa kalau bulan asyuro tidak berani menikahkan anaknya, senang-senang juga tidak berani, pindah rumah juga tidak berani, ini yang membuat banyak orang salah faham, mengatakan bahwa orang jawa itu terlalu percaya takhayul, bahkan ada yang mengatakan bahwa orang jawa tidak berani menikahkan anaknya karena Nyi Roro Kidul  sedang "mantu".

Memang bulan Asyuro adalah bulan keramat, menakutkan dan mengerikan, bagi orang Islam, iya bagi orang islam bukan hanya orang jawa. apa sebabnya ? Islam pertama kali turun di Mekah, dari Mekah lanjut ke Madinah, kemudian di Bawa Sayyidina Ali ( menantu dan juga sahabat Nabi Muhammad saw.) ke Basrah, bersama dengan Sayyidina Hasan Dan Husein.

Basrah (Persia) pada masa itu adalah Negara yang belum dimasuki islam masyarakat disana masih menyembah api, Karena Sayyidina Ali merupakan sosok yang pintar, halus dan sangat berani, sampai-sampai beliau menjadi idola baru di Persia.

Berita kegagahan dan kehebatan sayyidina Ali cepat sekali tersebar di Persia, sampai Raja Persia yang bernama Rustum tertarik untuk menyelidiki siapa sebenarnya sayyidina Ali, setelah mengetahui kebaikan sayyidina Ali dalam berdagang, berkeluarga, hubungannya dengan tetangga, membuat Raja Rustum yang beragama Majusi berkunjung ke rumah, bertujuan melamar putra Sayyidina Ali, dan  akhirnya Sayyidina Husein menikah dengan putri dari Raja Rustum dan melahirkan banyak sekali keturunan.

Hal ini juga menimbulkan efek baik, menyebabkan Raja Rustum masuk islam serta tidak lagi menyembah api yang ditempatkan di "Manaro" ( tempat api yang sangat tinggi seperti menara ). Setelah api dipadamkan Raja Rustum membangun masjid dan menyertakan manaro tanpa api di depan masjid. (yang samapi sekarang ditiru oleh orang islam diseluruh bangunan masjidnya)

Bersamaan dengan wajah baru islam yang tumbuh di Persia, terjadi konflik di Madinah antara Bani Hasyim dengan Bani Umaiyah, yang menyebabkan sayyidina Usman sebagai Khalifah ketiga wafat terbunuh, mendengar kabar tersebut sayyidina Ali pulang ke Madinah, dan terjadi kesepakatan membai'at sayyidina Ali menggantikan sayyidina Usman menjadi Khalifah keempat di tengah konflik berkelanjutan yang sedang terjadi, singkat cerita menyebabkan terbunuhnya Sayyidina Ali di tangan AbdurRahman Bin Muljam.

Kabar wafatnya sayyidina Ali memaksa sayyidina Hasan dan Husein yang berada di Basrah datang ke Madinah yang pada saat itu kekuasaan berada di tangan Muawiyah yang menyerahkan kekuasaan ke anaknya Yazid bin Muawiyah yang saat itu merasa tersaingi dengat kehadiran sayyidina Hasan dan Husein yang akhirnya menimbulkan konflik yang menyebabkan wafatnya sayyidina Hasan, yang disebabkan keracunan di Madinah.

Setelah sayyidina Hasan Wafat, sayyidina Husein merasa situasi semakin tidak terkendali, lantas  menyerahkan Madinah pada Yazid dan kembali ke Basrah bersama keluarga besar beliau tanpa membawa pasukan perang, dengan harapan konflik yang terjadi berakhir menjadi kedamaian.

Ditengah perjalanan sayyidina Husein yang waktu itu sampai di padang besar bernama Karbala pada tanggal 9 Asyuro ( 9 Muharam ), Yazid yang sudah tidak bisa mengendalikan emosinya mengirim pasukan perang untuk membunuh sayyidina Husein beserta seluruh keluarga dan anak cucu beliau. Pada tanggal 10 Asyuro pasukan Yazid berhasil melakukan pembantaian terhadap cucu-cucu Rasulullah saw. pada saat itulah "Dunia Berduka".

Semua orang berduka, kenapa ada orang yang tega membantai semua cucu-cucu Rasulullah. Semenjak kejadian 10 Asyuro itu, maka orang islam di seluruh dunia dan di Jawa menjadikan bulan Asyuro sebagai Bulan Duka atau Bulan Belasungkawa, jadi keramat dan misteri bulan Asyuro bukan karena Nyi Roro Kidul sedang mengadakan pesta pernikahan.

Hingga sampai sekarang orang di seluruh dunia memperingatinya dengan cara-cara atau adat mereka masing, seperti orang jawa yang membuat "Bubur Asyuro" bubur yang berwarna merah putih yang berarti merah digambarkan sebagai darah dan putih digambarkan sebagai tulang.

Orang Iran yang waktu itu menjadi saudara sayyidina Husein dari Istri beliau, merasa tidak bisa membela sayyidina Husein beserta Istri dan keluarganya juga berduka, maka orang Iran yang sekarang menjadi Syi'ah yang memiliki penyesalan terbesar, memperingati tanggal tersebut denga melukai diri sendiri sebagai wujud penyesalannya karena tidak bisa membantu sayyidina Husein dan keluarganya.

Orang Semenanjung Sumatera memperingati hari tersebut denga membuat "Tabuik" semacam menara kecil-kecil berbentuk kotak yang dilarung ke sungai, menggambarkan keranda-keranda yang berjejer membawa jenazah cucu-cucu Rasulullah saw.

Itulah mengapa banyak orang Jawa tidak berani menikahkan anaknya di bulan Suro (Asyuro), jadi bukan karena Nyi Roro Kidul sedang melaksanakan pesta pernikahan, tapi karena sedang berada di bulan berduka. Kiranya kisah di atas, menjadikan kita semua mengetahui sejarah dan kejadian sebenarnya, tidak mempercayai cerita yang dibuat-buat oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Dan semoga cerita kebenaran ini bisa didengar oleh anak cucu kita, akhir kata mudah-mudahan bermanfaat.

0 komentar

Post a Comment