December 18, 2018

Poligami Dalam Perspektif Muslimah

Bukan poligami

Poligami Dalam Perspektif Muslimah - Akhir-akhir ini netizen kelas atas ( kelas lanjutan, bukan lagi kelas dasar 😀 ) kembali dihebohkan dengan kata "Poligami". salah satu kata yang mengandung tingkat "kehororan" yang tinggi bagi sebagian besar atau hampir semua perempuan. mendengar kata itu saja sudah bisa menaikkan emosi para ibu beberapa tingkat lebih tinggi, apalagi pasangannya mempraktekkan poligami. jangan ditanya lagi, belum sempat ngomong sudah ada sandal melayang 😂

Anyway... walau bagaimanapun seorang perempuan menolak poligami, tapi memang secara syariat Islam diperbolehkan berpoligami, sebenarnya dengan banyak catatan. Tapi di masa sekarang kebanyakan kaum bapak poligami dengan tameng -Sunnah Rasul- untuk mendapatkan izin menikah lagi 😭

Jika menilik sejarah Kanjeng Nabi Muhammad yang beristri lebih dari satu, itu bukan semata kehendak beliau. Dari keterangan mbah Kyai, saya tuturkan kembali bahwasanya Nabi Muhammad menikah adalah dengan banyak tujuan, salah satunya nabi menikah untuk mengangkat derajat wanita yang berasal dari suku Badui yang dianggap kampungan dan direndahkan oleh sebagian suku terpandang. Nabi menikahinya sehingga tidak ada lagi kebanggaan pada satu kaum dan merendahkan kaum yang lain. Ada juga Nabi menikahi wanita kaya tapi bertabi'at galak, sehingga wanita tersebut takluk dan tunduk pada kesholihan Nabi dan "mentasorufkan" hartanya di jalan Allah SWT. Nabi tidak menikahi wanita hanya berdasarkan paras cantiknya saja, tapi lebih kepada tujuan untuk memperjuangkan agama.

Dan kita lihat poligami yang dilakukan kaum Adam (laki-laki) saat ini, kebanyakan yang dinikahi memiliki tingkat rupa yang lebih tinggi dibanding istri pertama, lebih muda, meski kadang tidak lebih sabar dari istri pertama.

Wanita memiliki kadar kecemburuan yang sangat tinggi, sehingga apabila suami membagi hatinya pada yang lain, kecemburuannya bisa mengalahkan akal sehatnya, jarang sekali perempuan bisa menyadari kenapa poligami diperbolehkan untuk mengangkat derajat seorang wanita yang sholihah misalnya, atau dalam keadaan si istri dalam kondisi sakit, yang tidak memungkinkannya untuk mengurus anak dan suami, atau alasan mendesak lainnya.

Memang perasaan setiap wanita hampir sama dalam masalah ini, itu pula mengapa para feminis memusuhi poligami mati-matian, menentang poligami sampai titik darah penghabisan. lalu menyalahkan Islam yang mempunyai aturan diperbolehkannya poligami, mereka menganggap perempuan satu-satunya pihak yang selalu dirugikan dalam poligami. mereka tidak berfikir panjang tentang keadaan-keadaan mendesak wanita seperti alasan di atas. karena hanya keburukan yang mereka ahu dari contoh laki-laki yang tidak bertanggung jawab dalam berpoligami,

Dalam hal ini laki-laki sebagai kepala keluarga memang diharuskan untuk berlaku seadil mungkin dari semua sisi pada kedua rumah tangga ( atau lebih ) yang dipimpinnya, menata niat dari awal poligami, melandaskan pondasi rumah tangga pada ketaqwaan pada Allah SWT. karena kalau tidak bisa menjadikan semuanya lebih baik maka satu saja sudah cukup bagi kamu ( wahai laki-laki ).

Ingatlah bahwa kamu adalah penanggung jawab dunia akhirat atas seluruh anggota keluargamu, apapun yang dilakukan anak dan istrimu akan menjadi tanggung jawabmu kelak. so... ! be careful.

Oleh : Lailatul M ( Lil )

0 komentar

Post a Comment