December 14, 2018

Pengertian Ikhlas Menurut Syekh Sahl Bin Abdillah Al Tustari

Contoh keikhlasan seorang ayah yang sedang mencari nafkah untuk keluarga

Ikhlas
 
Pengertian Ikhlas Menurut Syekh Sahl Bin Abdillah Al Tustari - Ada beberapa Sufi yang mendefinisikan Ikhlas dengan definisi yang berbeda-beda dalam ungkapan, tapi mempunyai maksud yang sama.
Menurut Syekh Sahl Bin Abdillah Al Tustari ( Lahir tahun 200H. Wafat tahun 283H. / 815M. - 896M. ), Ikhlas adalah Apabila semua "Diam" dan "Geraknya" hamba, hanya KHSUSUS karena Allah Subhanahu Wata'ala.
Gerak karena Allah, dan Diam juga karena Allah Subhanahu Wata'ala, tapi harus dengan Niat, tanpa niat tidak bisa menjadi Ibadah yang Ikhlas. karena semua perbuatan itu bisa diterima jadi ibadah, itu karena disertai niat, seperti bekerja di sawah, bekerja di kantor, mengajar, berjualan dan lain sebagainya, harus dengan nia, dan niatnya yang benar.

Banyak sekali "Amal Dunia" yang dilakukan dengan niat yang baik dan benar itu bisa jadi "Amal Akhirat", jadi sayang sekali kalau tidak disertai dengan Niat.

Sebuah Kisah, Rasulullah kembali dari peperangan, membawa Ganimah ( Harta Rampasan Perang ) banyak sekali, dan itu habis sebelum sampai rumah, karena dibagi-bagikan kepada fakir miskin, lalu Sayyidina Fatimah ( Putri ke empat Rasulullah, yang jadi istri Sayyidina Ali Bin Abi Thalib, dan mempunyai putra Hasan dan Husein ).

Fatimah berkata pada Rasulullah "Abah tolong saya dikasih satu Unta", Rasulullah balik bertanya "Untuk apa Fatimah ? ", Fatimah menjawab "Untuk menggiling gandum, setiap hari saya menggiling gandum dengan tangan saya sendiri Abah, sampai tangan saya melepuh" sambil menunjukkan tangan beliau kepada Rasulullah.
"Jangan ya Fatimah ... jangan minta unta, bukannya aku pelit, bukan... , tapi karena aku sayang engkau Fatimah, kalau kamu menggiling gandum dengan tangan kamu sendiri, dengan niat berbakti dan memberi suguhan pada suami dan anak-anakmu, maka tiap-tiap butir gandum yang kamu giling dan memasaknya, pahalanya sama dengan memberi makan 1000 orang fakir" jawab Rasulullah.

Dari kisah  di atas betapa pentingnya niat yang baik dan benar bisa menjadikan pekerjaan dunia ( menggiling gandum dengan tangan sendiri ) bisa menjadi amalan akhirat.

Itulah pengertian, contoh dan kisah tentang ikhlas, jika ada kesalahan dalam penyampaian saya mohon dikoreksi di kolom komentar.

Dikutip dari Pengajian Al Hikam oleh KH. Jamaludin Ahmad.

0 komentar

Post a Comment