December 12, 2018

Ketika Hasil Menjadi Tolak Ukur, Bukan Prosesnya

Pelajar MAI At tanwir Talun Sumberejo yang sedang proses berangkat sekolah

Ketika Hasil Menjadi Tolak Ukur, Bukan Prosesnya - Menjelang hari penerimaan Rapor. hari penting buat mereka-mereka yang bersekolah. Begitu pun bagi orang tua yang punya anak sekolah. bagi sebagian siswa hari penerimaan rapor di anggap penting karena setelah itu adalah saatnya liburan. happy holiday ... jenis murid yang seperti itu biasanya cuek sama isi Rapor. bodo amat, yang penting rapor bagus...  pas semesteran kemarin juga hasil menyontek teman, ups ...


Budaya  menyontek ini memang masih banyak di temukan di sekolah. Dari dulu sampai sekarang. kalau dulu menyontek cuma antar teman sesama peserta ujian, sekarang bahkan bisa melibatkan pihak ke-3, ke-4  dan seterusnya. Memakai uang pula untuk membeli kunci jawaban.


Banyak motif yang melatarbelakangi seorang pelajar menyontek, bisa jadi karena malas belajar (yang paling dominan), takut dimarahi orang tua kalau rapornya “kebakaran” (baca : banyak nilai merahnya) , atau juga di atur pihak sekolah supaya semua nilai peserta ujian bagus dan meningkatkan “Prestasi”  sekolahan tersebut. Alasan yang terakhir itu benar-benar ada loh... real.


Prihatin melihat kenyataan yang menimpa anak bangsa ini. Ketika yang menjadi tolak ukur bukan lagi proses, tapi hasil. Sedih melihat kenyataan bahwa anak yang belajar mati-matian bisa berada di rangking ke sekian. Bahkan di bawah urutan anak yang tidak belajar sama sekali. Karena sekali lagi yang di lihat adalah hasil dan bukan proses. Jika yang dilihat adalah Proses pasti ada “reward” untuk anak yang bersungguh-sungguh, ada perhatian khusus untuk anak yang jujur dengan kemampuannya, dengan usaha maksimalnya. Bisa dengan tambahan nilai, tambahan keterangan atau penilaian plus di luar nilai akademis siswa.


Begitu juga dengan wali murid, jika yang dilihat hanya hasil, maka pada hari penerimaan rapor itu saja ada perhatian pada belajar anak. Lantas bagaimana dengan keseharian proses belajar anak??? EGP (Emang gue pikirin) ... ! dengan begitu anak pun juga fokus pada hasil dan akan berpikir “apa pun caranya yang penting nilaiku bagus.”


Mental seperti ini yang harus dibenahi, dimulai dari lingkup terkecil suatu negara yaitu Keluarga, penanaman kejujuran yang didisiplinkan sejak dini serta penilaian sesuatu dari prosesnya bisa menghindarkan anak dari mental “menyontek” yang bisa berkembang menjadi plagiat.

Dan pada akhirnya, semua pasti merindukan bangsa yang besar dengan pemuda-pemuda cerdas hasil dari sekolahan-sekolahan berkualitas, bukan pelajar-pelajar malas yang hanya menghabiskan fasilitas tanpa proses yang jelas.


Semoga bisa menjadi inspirasi bagi kita semua, khususnya para orang tua.


Oleh : Lailatul M ( Lil )

0 komentar

Post a Comment